
Lpsp.unesa.ac.id
–
Kepala
Lembaga Pendidikan dan Sertifikasi Profesi (LPSP),Dr.
Maspiyah, M.Kes menunjukkan perhatiannya tentang pentingnya peningkatan
pelayanan prima di LPSP yang didalamnya masih terdapat kesenjangan antara
kebutuhan layanan yang optimal dengan kompetensi aktual tenaga kependidikan.
Untuk mengatasi hal tersebut, maka LPSP melaksanakan kegiatan workshop dengan
tema “Peningkatan Pelayanan Prima Bagai Civitas akademik di Lingkungan LPSP
Unesa”. Kegiatan ini diikuti oleh semua Kepala Pusat dan sekretaris, yaitu
pusat Diklat dan LSP, Pusat RPL, Pusat Bahasa, dan Pusat Confucius Institute,
serta seluruh tenaga kependidikan di LPSP dengan narasumber Any Widayati,
M.Pd.,Ed.D. dari Universitas Negeri Yogyakarta.
Acara
yang digelar tanggal 29-31 Agustus 2025 di Yogyakarta ini menjadi ajang
pengembangan kapasitas berpusat pada pemahaman bahwa pertumbuhan berkelanjutan
adalah hasil dari investasi yang terus-menerus pada sumber daya manusia serta
bekerja dengan hati. Menurut Lutfi Saksono sebagai kepala Pusat Bahasa
menginginkan bagaimana cara meningkatkan pelayanan baik dari sisi kepuasan
mahasiswa, dosen ataupun masyarakat.
Implementasi
pelayanab prima tersebut menurut Any, terdapat beberapa hal yang perlu
diperhatikan, antara lain yaitu :
Pertama, peningkatan kompetensi tenaga kependidikan
menjadi prioritas utama. Melalui program pelatihan berkelanjutan, workshop, dan
studi banding, tenaga kependidikan perlu terus mengembangkan pengetahuan dan
keterampilannya agar dapat melayani dengan lebih professional dan responsif
terhadap kebutuhan mahasiswa atau peserta sertifikasi.
Kedua, penggunaan teknologi informasi (TI) memegang
peranan penting dalam memodernisasi pelayanan. Penerapan sistem informasi
terintegrasi, platform online untuk akses informasi, dan layanan administrasi
digital dapat meningkatkan efisiensi dan efektivitas layanan.
Ketiga, peningkatan komunikasi antar tenaga
kependidikan dan pemangku kepentingan lain, seperti mahasiswa/peserta
sertifikasi, dosen penguji, dan lembaga terkait, perlu ditingkatkan. Komunikasi
yang terbuka dan transparan akan membangun kepercayaan dan mencegah
kesalahpahaman.
Selama
dua hari, peserta tidak hanya mendapatkan ilmu secara teori, namun juga
langsung mengimplementasikan beragam materi yang diberikan narasumber melalui
workshop task kelompok dan individu. Selain itu peserta juga diajak bagaimana cara Kerjasama dan bekerja
dengan hati.
Acara workshop
ditutup dengan ramah tamah makan malam bersama serta pemberian cenderamata
kepada narasumber sebagai tanda terima kasih telah diberikan ilmu serta
strategi didalam peningkatan pelayanan di Lembaga.