LPSP UNESA Gelar Seminar Pengembangan Guru untuk Mewujudkan Generasi Emas 2045

Surabaya, 4 November 2024 – Lembaga Pendidikan Sertifikasi Profesi (LPSP) melalui Pusat Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL) Universitas Negeri Surabaya (UNESA) menyelenggarakan seminar bertema "Pengembangan Guru Berkualitas melalui Jalur RPL untuk Membangun Generasi Emas 2045" pada Senin, 4 November 2024. Acara ini digelar di Gedung Pertemuan lantai 9 LPSP UNESA dan menurut laporan Awang Dharmawan, S.Ikom., M.A., diikuti oleh 248 peserta yang terdiri dari 195 guru Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Kota Surabaya dan 53 guru PAUD dari Kabupaten Madiun. Seluruh peserta merupakan mahasiswa program studi S1 Pendidikan Guru PAUD (PG PAUD) yang menempuh studi melalui jalur RPL di UNESA.
Seminar ini
dibuka oleh Dr. Maspiyah, M.Kes, Kepala LPSP UNESA, yang dalam sambutannya
menekankan pentingnya peningkatan kompetensi guru sebagai langkah strategis
untuk mendukung pencapaian visi Indonesia Maju dan pembentukan generasi emas
pada tahun 2045. Menurut Maspiyah, guru berperan sebagai pilar utama dalam
membangun Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkualitas, sehingga investasi pada
peningkatan pendidikan dan profesionalisme guru merupakan upaya yang sangat
berharga. Beliau juga menegaskan bahwa UNESA berkomitmen untuk menjaga kualitas
akademik mahasiswa yang menempuh studi melalui jalur RPL, terutama karena
banyak dari mereka telah memiliki pengalaman bertahun-tahun sebagai pendidik
sehingga memiliki kesadaran tinggi untuk terus belajar dan mengembangkan diri.
Seminar
menghadirkan tiga narasumber yang memberikan perspektif komprehensif terkait
pentingnya kualitas guru dalam pendidikan menuju Generasi Emas 2045. Pertama
yaitu Dr. Martadi, M.Sn, Wakil Rektor Bidang IV (Bidang Perencanaan,
Pengembangan, Kerja Sama, dan Teknologi Informasi dan Komunikasi) UNESA, yang
memaparkan materi bertajuk “Membangun Generasi EMAS 2045 melalui Pendidikan.”
Dalam pemaparannya, Martadi menggarisbawahi peran vital pendidikan dalam
membangun SDM yang berkualitas sebagai kunci kemajuan bangsa. Berdasarkan studi
Bank Dunia, sekitar 90% kemajuan suatu bangsa dipengaruhi oleh kualitas SDM,
sedangkan sumber daya alam hanya berkontribusi sebesar 10%. Beliau
mengungkapkan, negara-negara seperti Jepang dan Finlandia mampu mencapai
kemajuan yang pesat karena menempatkan profesi guru sebagai elemen fundamental
dalam sistem pendidikan mereka. Martadi juga menyoroti tantangan perkembangan
generasi baru, seperti Generasi Alfa, yang menghadapi berbagai kendala,
termasuk kurangnya keterampilan sosial dan kecenderungan obesitas akibat
penggunaan teknologi yang masif. Untuk menjawab tantangan ini, Martadi
menyarankan adopsi metode pendidikan yang lebih adaptif, seperti pembelajaran
daring dan kelas virtual.
Narasumber kedua
yaitu Ir. Yusuf Masruh, MM, Kepala Dinas Pendidikan Kota Surabaya, membahas
"Kebijakan dan Target Peningkatan Kompetensi Guru Surabaya Melalui
Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL)." Yusuf menjelaskan bahwa program RPL
di Surabaya difokuskan pada peningkatan kualitas guru PAUD, dengan tujuan agar
mereka dapat memberikan pendidikan karakter dan wawasan kebangsaan kepada
anak-anak sejak dini. Yusuf memaparkan data yang menunjukkan ribuan guru PAUD
di Surabaya belum memiliki kualifikasi S1 atau D-IV, yang diwajibkan oleh
pemerintah paling lambat pada tahun 2028. Program RPL mendapat dukungan
Pemerintah Kota Surabaya melalui pemberian beasiswa untuk biaya pendaftaran dan
uang kuliah tunggal bagi 200 guru PAUD. Yusuf juga menekankan empat kompetensi
utama yang harus dimiliki oleh guru, yaitu: kepribadian, pedagogik, sosial, dan
profesional. Ia menyatakan bahwa program RPL diharapkan dapat memenuhi target
peningkatan kualifikasi dan kompetensi guru PAUD di Surabaya, sehingga
mendukung profesionalisme dan menjawab tantangan yang ada.
Narasumber
terakhir yaitu Dra. Siti Zubaidah, M.H, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten
Madiun, memberikan paparan tentang "RPL untuk Kualitas Pendidikan."
Siti Zubaidah menyoroti pentingnya program RPL dalam mempercepat peningkatan
kualitas pendidikan di Kabupaten Madiun. Menurutnya, RPL memungkinkan guru yang
sudah berpengalaman untuk mendapatkan pengakuan formal atas keterampilan dan
kompetensinya, sehingga dapat meningkatkan profesionalisme dan mempercepat
pemenuhan standar pendidikan guru. Program ini juga memberikan berbagai
manfaat, termasuk meningkatkan motivasi kerja, memperkaya kompetensi, serta
membuka peluang pengembangan karier bagi para guru. Namun, ia juga mengakui
beberapa tantangan yang dihadapi guru di Madiun, seperti rendahnya
kesejahteraan dan insentif, tingginya beban kerja, dan kurangnya dukungan
infrastruktur. Untuk mengatasi kendala tersebut, berbagai strategi diusulkan,
termasuk pemberdayaan Program Pendidikan Profesi Guru (PPG), pembukaan formasi
Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) dan PNS, serta dukungan
pembiayaan melalui APBD dan APBN.
Acara seminar
ini menjadi ruang diskusi yang konstruktif mengenai peran penting RPL dalam
meningkatkan kualitas tenaga pendidik, terutama dalam mempersiapkan generasi
penerus bangsa yang kompeten dan siap menghadapi tantangan global pada tahun
2045. Para peserta seminar tampak antusias dan menyambut baik paparan yang
diberikan, mengingat relevansi dan urgensi program RPL dalam menjawab kebutuhan
akan guru yang berkualitas dan berdaya saing di era modern.
Share It On: